Saturday, 27 September 2014

Tak Ada Pilihan yang Salah

Pernahkah kita merasa salah memilih?, pernahkah kita menyesali akan suatu pilihan yang telah kita pilih?. Kedua perasaan tersebut saya yakin pernah dialami oleh setiap manusia. Hal tersebut sangatlah wajar dirasakan oleh setiap manusia karena Tuhan dengan kebesarannya menciptakan perasaan itu untuk menguji semua makhluknya. Ujian tersebut diciptakan Tuhan untuk meningkatkan beberapa derajat kualitas iman diantara sesamanya. Semakin kompleks dan susah suatu pilihan yang diberikan oleh Tuhan, semakin dalam pula Tuhan menggali otak kita untuk bekerja keras berfikir agar supaya koneksi hati dan keimanan kita tetap terjalin.

    Kenapa Tuhan melakukan itu?, karena Tuhan ingin memperkuat koneksi hati dan keimanan kita. Semakin kuat koneksi itu terbangun, maka akan semakin kuat pula efeknya dalam kehidupan kita sehari hari.

    Dalam bentuk apa?, efek yang paling sederhana adalah kita selalu mengingat Tuhan Semesta Alam disetiap awal melakukan kegiatan.

    Apakah Tuhan memberikan bantuan fasilitas untuk mempercepat koneksi itu?, Jawaban saya adalah iya. Fasilitas tersebut disampaikan melalui makhluk-makhluk pilihan-Nya. Fasilitas yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam salah satunya dalam bentuk 'ajaran solat sunat istikhoroh'. Fasilitas itulah yang seharusnya dimanfaatkan oleh manusia untuk menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup. Fasilitas tersebut hanya salah satu sarana Tuhan untuk mendekatkan manusia dengan-Nya.
    Jika diibaratkan fasilitas tersebut suatu software, maka hardwarenya adalah otak kita yang nantinya akan bekerja keras untuk menghasilkan out put yang dinamakan 'iman'. Jika dua hal tersebut di-upgrade kualitasnya maka 'keimanan' kita juga secara otomatis akan ter-upgrade.
   

Oleh sebab itulah mari kita bersyukur atas semua  pilihan kita dan selalu optimis di dalam menempuh semua pilihan-pilihan yang telah kita ambil, karena Tuhan Semesta Alam akan selalu memberikan pilihan-pilihan terbaik-Nya untuk manusia yang mau berusaha dan berfikir.

Serpong, 27 September 2014, 03.31 WIB

Thursday, 17 July 2014

Lindungi Tanah kita demi Budaya Anjing & Kucing 
(sesuatu hal yang tak penting difikirkan)


PERINGATAN!
Dibaca setelah makan. Jika tulisan kurang jelas, proses pembacaan dilakukan 3 kali sehari setelah makan. Jika masih tetap kurang jelas juga, mohon hubungi dokter mata, siapa tahu minus Anda semakin bertambah.


Tecatat pada pukul 17.40 WIB di Serpong, 16 Juli 2014.  Badan terasa sangat lelah untuk kegiatan hari ini. Tak tau apa penyebabnya. Kalau cuman gara-gara puasa kayaknya enggak juga, toh tadi tetap bekerja seperti biasanya.
Aku tertekun duduk sendirian di sofa bekas dengan dinikmati alunan ritme suara derasnya hujan dan indahnya suara petir pada sore hari ini menjelang buka puasa (Ramadha 1435 H). Tak sengaja pikiranku tertuju pada kotoran anjing dan kucing yang hari ini saya melihatnya dua kali di tempat yang berbeda beda. Kotoran tersebut tergeletak begitu saja di atas jalanan aspal yang sudah mulai rusak. Pada awalnya memang saya anggap suatu hal yang wajar karena itu juga sesuatu hal yang tidak penting untuk di bahas di tulisan kali ini. Namun, aku langsung tersentak bahwa hal tersebut TIDAK WAJAR, karena kucing atau anjing liar secara naluriah akan menggali lubang untuk selanjutnya mereka melakukan hajatnya dan yang terakhir adalah mereka akan menutupnya kembali hingga terkubur oleh tanah.
Sungguh luar biasa kesadaran mereka terhadap kotoran yang mereka keluarkan. Mereka sadar  dan peduli akan kenyamanan makhluk lain. Walaupun memang, terkadang penempatan dari kuburan sangat lah asal dibuat oleh mereka, namun hakikatnya mereka bertanggung jawab terhadap kotoran yang mereka keluarkan.
Pertanyaannya adalah????
Apakah kita pernah berfikir untuk perduli terhadap mereka? Semakin banyak tanah-tanah dilingkungan kita yang tertutupi paving atau aspal, maka saya yakin akan semakin pusing pula ke dua hewan itu untuk menjalankan nalurinya dalam menggali tanah sebelum mereka membuang kotoran.
Dengan melihat pergeseran budaya penggalian tanah oleh anjing dan kucing itulah saya mulai tergerak untuk mengajak pembaca untuk tetap melestarikan budaya mereka dan menjaga tanah-tanah komplek agar tetap mempunyai lahan kosong yang tidak dipaving atau diaspal demi mempertahankan siklus biologis dari anjing dan kucing.
Peduli itu antar sesama, bumi dan seisinya

Wednesday, 16 July 2014

Perjanjian Busuk




Serpong, 16 Juli 2014. Tersentak aku dari dalam tidurku karena dentuman kentongan beberapa warga yang lewat disekitar kostku. Maklum lah, budaya puasa selalu akan hidup dan hidup di Negeri tercinta ini. Tak akan mungkin akan di temukan di Negara lain kecuali kau di Indonesia.  Aku tengok jam pada waktu itu menunjukan jam 03.36 WIB. Tak lupa pula aku bangunin orang yang kusayangi yang sekarang masih berada di kota lain untuk menikmati indahnya bunga-bunga mimpi yang Engkau ciptakan Tuhan,
Dengan mata masih sepertiga dibuka, aku mulai menguatkan tekad untuk beranjak dari tempat tidurku untuk menuju kamar mandi. Setelah selesai membasuh dengan air yang begitu dingin menyapa mukaku, akhirnya kelopak mataku ini merekah hingga dalam keadaan maksimal. ‘Alkhamdulillah ku lantunkan kepadaMu, Tuhan untuk hari ini yang damai’.
Roti mungil, beberapa buah kurma dan satu botol air mineral adalah menu sahur hari ini. Tak kurang dari 10 menit, semua hidangan itu akhirnya ludes dan hanya tersisa biji-biji kurma saja yang telah menumpuk di dalam kantong plastik. Sembari menunggu berkumandangnya saat imsak datang dan adzan subuh, aku pun bergerak menuju tas kerjaku untuk mengambil laptop dan menulis bait bait makna untuk Negeri Indonesia raya yang sudah lama tidak berani membanggakan dirinya sendiri.
Perjanjian Busuk
Wahai Bangsa Bangsa di luar sana yang sedang tertawa kepada Bangsa Kami
Kami sadar betul akan keberadaan kalian
Kami sadar betul akan keadaan kami
Tonggak proklamasi belum cukup untuk mengusir semua penjajah ditanah Negeri ini
Masih banyak sumber daya Alam yang kau rampas dari kita, dari mulai energy diujung ujung kepulauan kami hingga kau merampas hak-hak kami untuk hidup bersemangat untuk membangun Negeri tercinta ini.
Kau buai kami dengan pundi-pundi uang yang melimpah demi merelakan perjanjian-perjanjian busuk yang kau sepakati dengan pemimpin kami yang korup
Kau boleh tertawa hari ini tuan.
Namun jangan harap mampu tertawa lagi ketika pemimpin-pemimpin muda akan lahir untuk berdiri di garda depan untuk melucuti semua perjanjian perjanjian busuk yang kau tanda tangani bersama dengan pendahulu kami.
Kami bukan Bangsa yang lemah Tuan,
Kami Bangsa yang Besar, Kami Bangsa Pejuang, Kami Bangsa yang Merdeka
Jangan khawatirkan kami Pak
Kami akan akan selalu melanjutkan perberjuang mu demi tumpah darah Bangsa Indonesia.

Saturday, 12 July 2014

Judulnya apa ya?



Semarang, 11 Juli 2014. Di hari ini tercatat tulisanku yang pertama ditahun 2014. Entah mengapa begitu lama dan begitu susah untuk memulai kembali untuk menulis, padahal dengan menulis aku akan merasa bebas-sebebasnya. Betapa banyak isi otak ini untukku ungkapkan kedalam suatu tulisan. Jujur aku bingung harus mulai darimana aku akan bercerita tentang semua pokok bahasan yang akan aku torehkan pada kesempatan pertama ini, karena ditahun ini aku punya banyak cerita dari mulai aku bekerja menjadi abdi Negara yang membuat mimpiku semakin jelas di dapan mata untuk bisa belajar hingga keluar Negeri, berjuang untuk wanita yang telah aku pilih, ikut menentukan pemimpin Bangsa pelaut handal pada zamannya yang kini telah lupa akan perairannya, hingga urusan umat islam di belahan bumi timur tengah yang sedang berjuang atas nama Tuhan Semesta Alam.
Teriknya panas hari ini aku lalui dari kota serpong, Tangerang Selatan – Semarang demi bertemu dengan semua anggota keluargaku yang sedang mendoaakan sang pemimpin masa depan Bangsa Indonesia yaitu keponakan pertama aku agar selalu dalam lindungannya.
Tak kan pernah ada seseorang sekuat kakakku di dunia. Dia sangat tenang hari ini, walaupun aku yakin dalam hatinya pasti bergejolak tangis yang sangat mendalam tapibegitulah kakaku. Alkhamdulillah dia tetap tenang walaupun mendapatkan ujian yang begitu dahsyat dari Tuhan Semesta Alam. Aku yakin 100% semuanya akan bergerak menuju ridhomu dan keikhlasanmu untuk mengangkat semua ujian yang Engkau berikan. Amin, amin, amin.
Sesampainya di ruang 305, aku meihat keponakanku yang super tangguh itu sudah tertidur pulas. Doa terindah pasti aku lantunkan untukmu Nak, semoga Allah selalu melindungi melalui malaikat-malaikat yang diberi mandat untuk menjagamu hingga  besar nanti.
Tak terasa sudah hampir jam 12 malam, dengan mengucapkan ‘Selamat tidur Komandan Cantik’, aku akhiri tulisan ini, terimakasih untuk semua ilmu kasih sayang yang engkau ajarkan ke aku. Tak kan ku sia-sia kan usiaku di bumi ini untuk membahagiakan semua orang yang aku sayangi. Terimakasih.
Alfan.arbianto, 2014

Tuesday, 10 December 2013

Malaikat pun memilih ‘Penjual Nasi Uduk’ untuk menyampaikan ilmu-Nya



Cikarang, 10 Desember 2013. Segarnya udara pagi yang masih bercampur dengan sisa-sisa uap air bekas hujan semalam memaksa aku untuk bangun lebih pagi dan sarapan pagi. Ditemani secangkir kopi hangat dan sisa-sisa biscuit yang sudah mulai berubah tampilan aslinya karena seharian kalengnya tak tertutup rapat akupun mulai menulis tentang ‘akar matematika’.
Sudah sekian lama aku menunggu malaikat-Mu untuk mengirim makrifat dari ilmu ‘akar matematika’. Hampir dua sampai tiga bulan aku mencari dan memikirkannya. Keanehan tersebut terjadi ketika aku sedang berdiam diri dengan sebuah kalkulator butut jaman SMA. Tak senga aku pencet-pencet semua angka dan berakhirlah dengan operasi akar matematika tersebut.
Awalnya aku hanya asal untuk memencet tombol angka yang ada di kalkulator, kemudian aku lanjutkan untuk memencet berkali-kali salah satu operasi hitung matematika yang ada yaitu ‘akar’. Kata ‘SubkhanaAllah’ akhirnya langsung terlontar seketika. Apa yang terjadi????
Yang terjadi ternyata angka akhir yang diperoleh adalah angka ‘1’ (satu). Kenapa hal tersebut terjadi?. Pertanyaan dan keingin tahuan itu semakin bertambah ketika aku coba lagi dengan kalkulator yang mempunyai deret angka lebih banyak ternyata hasilnya juga akan tetap angka satu.
Sudah hampir 2 sampai 3 bulan aku berusaha untuk mencari kenapa hal tersebut bisa terjadi dan ilmu apa yang dapat aku ambil dari peristiwa itu. Semua usaha untuk menemukan itu gagal, hingga akhirnya di pagi yang cerah ini aku mendapat bisikan dari malaikat Allah yang dilewatkan kepada ‘Ibu penjual nasi uduk’ tentang konsep rumit tadi.
Percakapan yang terjadi kira-kira seperti ini,
‘Mas, beli nasi uduknya nasinya satu apa setengah?’ Tanya si Ibu.
‘Setengah saja Bu’, Jawabku.
Setelah menjawab dengan sigapnya, otaku terasa ada yang menyambar untuk memantik kata-kata yang muncul itu, angka satu dan setengah.
Kebanyak orang pasti ingat konsep dasar dari operasi bilangan akar matematika. 


                Dari persamaan matematika tersebut dapat kita ungkap bahwa semua bilangan asli matematika jika kita kenai operasi hitung akar akan menghasilkan angka ‘satu’. Hal tersebut parallel dengan konsep ilmu kehidupan yaitu ‘ketika kau mencari Tuhan-Mu maka kenali dan pelajari lah dirimu hingga bagian yang paling terkecil dari tubuhmu, maka kamu akan menemukan siapa Tuhan-MU’.
Proses terus menerus dari proses ‘pengakaran’ suatu bilangan X mengakibatkan naiknya angka penyebut pada angka pangkat bilangan X.
Akar X artinya X pangkat ½. Jika angka hasilnya di akar lagi maka persamaannya menjadi X pangkat ¼, seterusnya akan menjadi menjadi angka tak terhingga. Jika angka satu di bagi dengan angka tak terhingg maka akan menghasilkan angka limit mendekai ‘0’. Semua angka jika dipangkatkan angka ‘0’ akan sama dengan ‘satu’.
Dari proses pemikiran tersebut, hal yang dapat kita petik adalah ‘semua hal yang ada di bumi ini pasti bertasbih dengan caranya masing masing, mungkin dengan cara itulah angka-angka yang kita kenal setiap hari selama ini bertasbih kepada-Nya. Tak ada batasan ruang dan waktu bagi mereka untuk selalu bertasbih mengagungkan arti dari angka SATU tersebut.  
Datangnya ilmu tidak selalu dari guru dari penjual nasi uduk pun ada ilmu yang bisa kita ambil.